Sabtu, 15 November 2008

Goodbye Windows Vista, Lifelong XP


Masih ingatkah Anda ketika Microsoft mulai membatasi penjualan Windows XP dalam rangka menjelang terbitnya Windows 7 yang mungkin akan menggantikan Vista? Namun, sepertinya Microsoft harus mengubah semua prosedur yang telah dibuat sebelumnya mengenai batas hidup Windows XP.

Microsoft mulai menyadari kemauan sebagian besar konsumennya yang masih ingin menggunakan Windows XP dan telah merasa kurang puas dengan Vista. Untuk memenuhi keinginan konsumen, maka Microsoft memperpanjang batas waktu bagi para pengguna PC agar dapat mendowngrade atau berpindah dari Windows Vista ke Windows XP di mesin computer mereka.

Microsoft sendiri telah membuat aturan mengenai frame time downgrade ke Windows XP mulai 31 Januari 2009 hingga 31 Juli 2009. “Dengan adanya aturan tersebut, bukan berarti hak downgrade sistem menjadi hilang. Jika banyak konsumen yang berpindah dari Windows Vista ke Windows XP, maka kami akan memastikan bahwa proses transisinya dapat berjalan lancar dan sehalus mungkin. Namun untuk penyediaan media downgrade membutuhkan waktu beberapa bulan sebagai bukti dari komitmen kami.”, kata juru bicara Microsoft.

Microsoft memperkirakan sekitar enam bulan untuk menyediakan media downgrade untuk XP Professional untuk OEM dan system builder, bagi user yang terlanjur menggunakan Windows Vista Ultimate dan Business editions. Jadi bagi Anda yang ingin men-downgrade atau beralih dari Vista ke Windows XP, masih ada kesempatan hingga tahun 2009. Read More..

Ponsel dan Internet, Bantu Hubungan Pasangan Muda


Sebuah survey yang dilakukan oleh Asosiasi Peneliti Internasional dari Princeton, Amerika telah mewawancarai sekitar 2.252 orang dewasa, usia 18 tahun dan di atasnya, pada bulan Desember dan Januari lalu. Survei tersebut dinamakan project Pew Internet dan American Life Project yang berfokus dari 1,257 jawaban responden mengenai hubungan pernikahan pasangan muda.

“Walaupun beberapa komentator agak sedikit takut mengenai ketergantungan keluarga terhadap teknologi, namun survey membuktikan bahwa pasangan yang telah menikah menggunakan ponsel untuk koneksi dan mengkoordinasikan hidup mereka, terutama jika mereka kemudian memiliki anak. Mereka akan semankin sering terkoneksi dengan ponsel atau komunikasi Internet. Ketika mereka sampai di rumah, maka mereka sering berbagi pengalaman dan mencari hiburan melalui Internet.”, hasil pernyataan studi tersebut.

Untuk manfaat Internet, sekitar 33 persen pengguna Internet mengatakan bahwa Internet memiliki koneksi yang kuat untuk hubungan social, dan 23 perssen mengatakan bahwa Internet dapat menambah kualitas dari komunikasi dalam keluarga. Rata-rata anak muda menggunakan Internet lebih tinggi, dengan 21 persen dari usia 18 hingga 29 tahun mengungkapkan bahwa Internet memiliki improvisasi kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan 49 persen mengatakan bahwa Internet mampu mempererat hubungan antar teman.

Sedangkan untuk masalah waktu dan biaya, 11 persen dari pengguna Internet yang sudah dewasa mengatakan bahwa Internet dapat menghabiskan waktu ketika sedang bekerja di kantor, dan 19 persen menyatakan bahwa Internet telah menambah jam terbang ketika mereka bekerja di rumah. Sekitar 29 persen mengatakan bahwa usia usia 18 hingga 29 tahun lebih banyak menggunakan Internet daripada menonton TV.

Selain Internet, ponsel juga berpengaruh kepada pasangan yang sudah menikah, sekitar 47 persen orang yang sudah menikah akan lebih sering menggunakan ponsel per hari, sementara 35 persen lainnya menyatakan bahwa penggunaan telepon rumah juga lebih sering digunakan. Secara keseluruhan dari kesimpulan survey adalah kebanyakan responden menanggapi positif atau netral mengenai impact dari penggunaan teknologi dan kualitas komunikasi mereka, baik untuk yang sudah menikah ataupun single.
Read More..

Minggu, 09 November 2008

Negara Terancam? Langsung Blokir Website


Setelah Cina, Afrika Selatan, Timur Tengah, kini Pemerintah Thailand berani menghabiskan uangnya sekitar $14 juta untuk mendukung teknologi guna memblokir website yang dirasa menganggu ketentraman negara monarki tersebut. Kepala militer dan perdana menteri di Thailand telah menuduh sebuah grup tanpa nama karena telah menghina raja, sebuah kriminalitas di Thailand dengan hukuman penjara 15 tahun. Namun, beberapa media grup di Thailand mengatakan bahwa semuanya itu hanyalah alat politik.

Keluarga kerajaan telah menjalani dunia politik dan sebuah grup anti-pemerintah telah memprotes dalam beberapa bulan terakhir, mengklaim naiknya segala loyalty ke kerajaan. Namun, raja Thailand belum memberikan komentar mengenai kerusuhan tersebut. “Semakin besar jumlah website yang telah ‘menyerang’ kerajaan, dan para menteri mengusulkan untuk membeli sebuah blocker yang memiliki harga antara 100 hingga 500 juta baht atau setara dengan $2.8 hingga $14 juta. Lebih dari 80% website berasal dari luar negeri.” kata menteri komunikasi, Mun Patanotai.

Mun sendiri menyatakan bahwa pihaknya telah menerima lebih dari 1,000 komplain mengenai website yang terang-terangan menghina kerajaan. Bahkan Thailand sempat memblokir website share video, YouTube setelah clip-nya yang terlalu mengecam Raja Bhumibol Adulyadej. Hal ini kemudian memicu adanya kontrol hukum terhadap cyberspace untuk semakin meningkatkan sensor atau watchdog, setelah kejadian pada Thaksin Shinawatra, di tahun 2006 lalu.

Perdana Menteri Somchai Wongsawat teah mengingatkan semua warga negara Thailand, bahwa siapa saja yang berani menghina raja atau mengait-ngaitkan kerajaan dengan politik, akan dihukum. Semua pihak, mulai dari pemerintah, staff, militer, polisi dan setiap orang Thailand harus menjaga nama baik kerajaan, tambahnya. Read More..